Tolong Menolong Itu DNA Bangsa

Tolong Menolong Itu DNA Bangsa

Oleh: Ahmad Cholis Hamzah.

Bangsa kita sejak lama mengenal sikap, kegiatan tolong menolong, ada istilah gotong royong, kesetiakawanan sosial, solidaritas sosial dsb. Semua “trait” itu sudah merupakan DNA dari bangsa ini sejak lama. Sikap seperti itu berasal dari ajaran agama yang dianut dan ajaran luhur nilai-nilai budaya bangsa. Di kampung atau desa kalau ada warga yang mendirikan rumah, maka semua warga lainnya ikut membantu tanpa pamrih, ini merupakan contoh dari sikap tradisi gotong royong tadi.

Saat ini berbagai elemen masyarakat diseluruh nusantara ini bahu membahu membantu saudara-saudara sebangsa di Sumatra. Itulah DNA bangsa Indonesia sejak dahulu. Itu merupakan nilai-nilai luhur yang turun temurun -passing down from generation to generation.

Media nasional kita mewartakan berbagai sikap tolong menolong itu dalam kaitannya dengan bencana banjir bandang yang menimpa saudara sebangsa di tiga propinsi Sumatra yaitu Sumatra Barat, Sumatra Utara dan Aceh. Salaha satunya ada warung di Jember yang menyediakan makan gratis kepada para mahasiswa perantauan dari pulau Sumatra. Pemilik warung mengatakan kepada awak media bahwa memang sulit membantu langsung para korban di Sumatra mengingat jaraknya jauh, karena itu yang dia bisa lakukan adalah membantu meringankan beban adik-adik mahasiswa asal Sumatra yang sedang menempuh kuliah di Jember.

Ada lagi sebuah warung makan khas Aceh, Warung Keumala, di Senggotan, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menunjukkan kepedulian sosial yang tinggi. Warung ini menggratiskan makan dan minum bagi setiap pemilik KTP Aceh sebagai bentuk bantuan. Program makan gratis ini ditujukan untuk membantu warga perantauan Aceh di Yogyakarta, terutama yang keluarganya sedang terdampak bencana alam di Serambi Mekkah.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mendata mahasiswa asal Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang keluarganya terdampak bencana banjir dan tanah longsor. Pemda DIY akan memberikan bantuan kepada para mahasiswa terdampak bencana ini.

Berbagai media mewartakan kisah haru datang dari seorang bocah asal Papua bernama Pison, yang belakangan viral melalui akun media sosial @pisonkogoya. Awalnya, Pison tekun menabung di celengan bergambar Doraemon agar bisa mewujudkan impian berlibur Natal ke Jayapura. Ia ingin bermain di Pantai Amai, menikmati air kelapa, hingga berjalan-jalan di Danau Sentani. Namun, impian sederhana itu seketika berubah setelah ia melihat pemberitaan mengenai banjir besar yang melanda wilayah Sumatera. Tergerak oleh empati, Pison memutuskan membongkar celengannya. Setelah dihitung, total tabungannya mencapai Rp 1,653 juta, seluruhnya hasil jerih payahnya, seperti mencabut uban dan membantu pekerjaan rumah.

Saya telpun junior saya yang dulu aktif di organisasi Purna Caraka Muda Jawa Timur (organisasi yang membawahi alumni program pertukaran pemuda luar negeri dan Paskibraka dimana pada tahun 1980 an saya menjadi Ketuanya) – dr. Agus Harianto direktur Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga membicarakan soal perlunya bantuan medis ke Sumatra. Dia mengkonfimarsi memang ancaman berbagai penyakit pascabencana mulai mengintai wilayah terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Aceh dan Sumatera. Merespons kondisi mendesak tersebut, Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga (RSKKA) milik Ikatan Alumni Universitas Airlangga tengah mempersiapkan keberangkatan menuju zona bencana. “Dik Agus sekarang dimana?”, saya bertanya; dan dia menjawab bahwa dia dan beberapa tenaga kesehatan dari FK UNAIR yang berada di Rumah Sakit Terapung saat ini masih menyelesaikan program layanan kesehatan rujukan proaktif di Pulau Sapuka, Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan. Lokasi operasi yang jauh dari Sumatera menjadi tantangan tersendiri dalam mobilisasi kapal. Oleh karena itu akan menempuh beberapa hari bagi Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga itu bisa sampai di pulau Sumatra. Dr. Agus meyakinkan saya bahwa dia sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan di Sumatra Barat dan akan akan men-deploy dokter-dokter spesialis, pskiater dan perawat ke Sumatra.

Selain Unair, media melaporkan bahwa tim dokter dari UGM, Unpad, UI, Undip dll – tidak bisa saya sebut satu persatu juga mengirim mahasiswa dan tim dokter ke wilayah terdampak banjir bandang di Sumatra.

Dua organisasi Islam terbesar di Indonesia NU dan Mujammadiyah juga turun gunung. PBNU misalnya meluncurkan Program Satu Juta Keluarga NU Peduli Bencana, sebuah inisiatif nasional yang mengajak keluarga-keluarga NU berpartisipasi dalam penggalangan dana membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Sementara itu Muhammadiyah, melalui lembaga amil zakat resminya, Lazismu, secara aktif menggalang dana, infak, dan sedekah untuk berbagai program kemanusiaan dan pembangunan, termasuk pembangunan masjid di Sumatera.

Baru-baru ini (per Desember 2025), Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menginstruksikan agar infak salat Jumat di seluruh masjid Muhammadiyah dialihkan sementara untuk membantu korban bencana alam di Sumatera (Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan daerah terdampak lainnya).

Diatas itu hanyalah beberapa contoh kepedulian elemen bangsa Indonesia ini membantu Sumatra, dari warung, anak kecil papua sampai ke elemen Pergurun Tinggi dan organisasi Islam. Saya tentu tidak bisa menyebutkan individu atau lembaga lainnya yang membantu Sumatra karena sebenarnya masih banyak elemen anak bangsa di berbagai daerah di Nusantara ini yang menunjukkan kepeduliannya kepada saudara-saudara sebangsa di tiga wilayah di pulau Sumatra yang sedang terkena bencana ini.

Apabila di tengah banjir besar di Sumatra, ada pejabat, tokoh masyarakat yang turun dengan maksud pencitraan misalnya memanggul beras di depan kamera, mengepel lumpur dengan cara yang justru memicu komentar warganet karena dianggap kurang efektif, melemparkan bantuan dari dalam mobil dsb maka tindakan seperti itu sejatinya tidak sesuai dengan DNA bangsa yang luhur ini.

EDITOR: REYNA

Last Day Views: 26,55 K