JOMBANG – Tongkat bambu kuning almarhum mbah KH. Hasym Asy’ari bergetar, akan “nyambleki” pihak-pihak yang ingin menghancurkan NU.
Demikian dikatakan Cak Qomar panggilan akrab dari Ir. Qomaruddin MMT, pengurus Padepokan Wali Paidi, seorang warga nahdliyin kultural dalam keterangannya sehabis dari berdoa di makam Hadrotus Syech Mbah Yai Hasyim Asy’ari. Hal itu dikatakan Cak Qomar saat ditanya tentang bagaimana pandangannya mencermati kemelut yang melanda pimpinan Ormas keagamaan terbesar di Indonesia Nahdlotul Ulama (NU) yang masih belum menemukan titik terang penyelesaiannya tersebut.
Lho lho lho… bagaimana ceritanya Cak, siapa yang akan disambleki, siapa yang salah sih.. koq sampai akan disambleki oleh tongkat sakti karomah mbah Yai Hasyim Asy’ari?
Cak Qomar tidak mau menilai siapa yang salah dan siapa yang benar. “Barangkali salah semua dengan porsi kesalahan masing-masing, sistem organisasi ndak jalan, budaya tabayun, tasamuh dan saling berpesan kepada kebaikan tidak berjalan efektif. Yang ada adalah rumongso biso dibanding biso rumongso, rumongso kuwoso dan seterusnya. Saya sendiri pun meski hanya sebagai warga NU kultural, ikutan merasa bersalah atas kejadian tersebut”, kata Cak Qomar.
Cak Qomar tidak terlalu peduli untuk menyalahkan dan mencari-cari siapa yang salah. Cak Qomar hanya menyampaikan bahwa hasil riyadloh dari seorang Kiyai ndeso tapi Waskito yang tidak disebut namanya, mengatakan bahwa tongkat Bambu Kuning almarhum Mbah KH. Hasyim Asy’ari pemberian dari almarhum mbah KH. Syaichona Kholil Bangkalan, telah bergetar dan getaran tersebut beberapa kali masuk dalam frekuensi spiritualnya.
Kiyai ndeso terkesiap saat menerima getaran tersebut : “Ada apa ini koq saya dapat isyarat melalui mimpi saya yang demikian”. Setelah merenung sebentar, kiyai tersebut menerjemahkan, “Owh ini mungkin adalah isyarat bahwa pendiri NU terutama mbah KH Hasyim Asy’ari melalui hikmah ilmu karomah spritualnya merasa prihatin dan tidak rela atas kemelut NU yang terjadi di penghujung tahun 2025 dan ternyata belum juga selesai secara damai”.
Mayoritas warga NU kultural yang peduli apalagi para pendiri NU, tentu sangat sedih sekali melihat kemelut yang terjadi di tubuh PBNU yang terdiri dari para tokoh terhormat, tokoh yang alim dan yang ulama serta yang terpilih.
Di saat negara sedang susah terkena bencana banjir bandang terutama di pulau Sumatera dari wilayah Padang, Tapanuli hingga Aceh, namun para elit PBNU justru sibuk berkelahi sendiri ha ha ha (kata Gus Mus), lupa umat lupa bangsa entah apa yang disengketakan.
Cepat atau lambat, Tongkat Bambu Kuning tersebut akan nyambleki ibarat seperti guru yang nyambleki (memukul sayang) kepada murid-muridnya yang nakal di kelas dengan penggaris kayu Panjang. Siapapun dan dari pihak manapun baik yang nampak di depan layar di atas panggung, maupun yang tidak nampak… yang berada di balik layar.
Cak Qomar sungguh juga sangat prihatin akan kemelut di tubuh NU tersebut. Pada malam Jum’at wage kemarin, kembali lagi madul (mengadu) kepada Gusti Alloh SWT di atas makam almarhum Mbah KH Hasyim Asyari di PonPes Tebuireng pada lingsir wengi di kala suasana agak sepi karena pengunjung makam sudah pada mulai kembali ke daerah masing-masing, disamping juga karena gerimis sejak siang hingga malam hari.
Cak Qomar berdoa kepada Gusti Alloh SWT agar kemelut di tubuh PBNU segera berakhir dengan hikmah, dengan bijak bukan dengan meninggalkan dendam tanpa adab. Semua pihak harus benar-benar merenungkan kembali niyatan dalam berhikmah di kepengurusan PBNU. Jauhkan ego dan nafsu pribadi dan kelompok, semuanya harus benar-benar demi kemaslahatan organisasi, demi ummat dan NKRI sebagaimana semangat didirikannya ormas NU oleh para alim ulama founding fathers NU.
Demikian yang dikatakan Cak Qomar sambil pulang ke rumah sehabis dari kompleks makam mbah Yai Hasyim Asy’ari dan Gus Dur. Semoga Gusti Alloh SWT ngijabahi, Kabul Kajat. Amien3 YRA.
EDITOR: REYNA
Related Posts

Nikita, Cermin KejujuranYang Ditolak

Eks Menpora Dito Diperiksa KPK Terkait Kunjungan Kerja ke Arab Saudi dalam Kasus Haji

Sekolah Ramah Anak Surabaya dan Fenomena Gunung Es Kekerasan Simbolik

Tim Perusahaan Segera Melakukan Penanggulangan Minyak Tumpah Di Laut Untuk Cegah Pencemaran

Elite Berpesta Mengeruk Anggaran Negara

Dia Yang Merusak, Dia Yang Memperbaiki?

Harga emas mencapai rekor tertinggi di tengah ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi

Geopolitik Membentuk Ulang Prakiraan Ekonomi Seiring Meningkatnya Risiko Rantai Pasokan

Kedaulatan Rakyat Telah Dirampas Dan Dibajak Parpol Dan DPR

Wakil Ketua Komisi IX DPR, Yahya Zaini, Usul Guru Honorer Diprioritaskan Diangkat PPPK Sebelum Pegawai SPPG




No Responses