Oleh: Ahmad Cholis Hamzah
Sudah banyak media yang mewartakan keputusan Presiden Prabowo memberikan rehabilitasi kepada mantan Direktur Utama PT. Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) Ira Puspadewi setelah divonis 4,5 tahun di Pengadilan Tipikor Jakarta. Ya mbak Ira alumni SMAN 1 Sidoarjo, UB Malang dan adiknya Yang Mulia Duta Besar RI untuk Inggris yang alumni FISIP UNAIR itu – lolos dari jeratan hukum yang putusannya dinilai kontroversial oleh banyak pakar dan masyarakat pada umumnya karena tidak ada kerugian negara dan tidak ada niatan memperkaya diri,
Saya bertanya sahabat saya Ir. Agus Mualif alumni Fakultas Perkapalan ITS yang mantan pejabat di Departemen Industri pusat dan Kabupaten Gresik – soal tuduhan KPK bahwa mbak Ira memanipulasi umur kapal. Dia menjawab dengan gaya Suroboyo. “Cak Sampean harus paham bagaimana perencanaan membuat kapal, bukan membuat perahu.”., Bagi dia tuduhan KPK itu menentang akal sehat dan Departemen perhubungan, melecehkan BKI – Biro Klasifikasi Indonesia, melecehkan administrator pelabuhan dan melecehkan galangan yang membuat kapal-katanya dengan semangat. Dia menambahkan bahwa dokumen sebuah kapal itu buaanyak, demikian juga sertifikatnya, ada sertfikat mesin, berbagai sertfikat pompa, perpipaan, kelistrikan dll tidak seperti sertifikat mobil yang Borongan dari pabrik yang tertuang di BPKP mobil. Oh ya, galangan kapal juga menerbitkan sertifikat. Semua dokumen-dokumen itu ada di beberapa lembaga.
Penting untu diperhatikan katanya, umur kapal itu ditentukan oleh mesinnya dan tertuang di sertifikat. Mengganti mesin itu yang paling sulit karena harus pesan dulu, bisa dua tahun baru datang.
Sahabat saya dr. Laitupa yang pernah menjabat sebuah Rumah Sakit daerah yang juga mendapatkan penjelasannya Cak Agus itu bilang: “karena yang ngomong ahli kapal, ya aku percoyo ae”. Saya pun punya pendapat yang sama dengan sang dokter ini karena Cak Agus yang usianya 6 tahun dibawah saya itu jebolan Fakultas Teknik Perkapalan dan ayahnya pernah bekerja di PT. PAL Surabaya.
Pendapat Cak Agus hampir sama dengan pendapat Prof. Rhenald Kasali Guru Besar FEB UI yang menjadi saksi ahli dalam sidanynya mbak Ira itu yang mengatakan bahwa umur kapal itu bisa puluhan tidak seperti umur mobil yang 5-10 tahun. Karena itu sang Profesor ini menyatakan keprihatinannya terhadap persidangan itu karena menggunakan metode metode scrapped approach dalam menghitung kerugian negara. Akibatnya 53 kapal yang dibeli mbak Ira dari akuisisi sebuah perusahaan dinilai sebagai besi tua karena dinilai umurnya 30 tahun yang dinilai hanya 19 M, lalu KPK menghitung: belinya 1,2 T maka selisih (1,2 Triliyun dikurangi 19 Milyar, atau sekitar 1,181 T) itu merupakan kerugian negara. Prof. Kasali juga menyinggung soal perlunya perusahaan penilai atau Appraisal Company untuk menilai kelayakan kapal dari akuisisi perusahaan yang dilakukan mbak Ira.
Eka Mei Djajanto – sahabat saya yang alumni ITS dan memiliki perusahaan Penilai atau Appraisal mengamini pendapat Prof. Kasali. Cak Eka ini sudah malang melintang melakukan jasa penilaian klien nya yang ingin membeli sebuah kapal di galangan kapal di Cina. Jadi menilai harga, umur kapal dsb tidak sembarangan – kata dia.
Mbak Ira itu mengemban tugas berat di ASDP karena harus melayani pulau-pulau yang tergolon 3 T yaitu terluar, Terdepan dan Tertinggal, kalau dia tidak bisa melaksanakn tugas itu misalkan kapal tidak ada maka akan terjadi gejolak ekonomi utamanya kenaikan harga-harga kebutuhan pokok di wilayah 3 T itu; dan untuk menyiapkan kapal itu tidak mudah, memerlukan waktu panjang.
Memang benar membeli kapal itu lain dengan membeli mobil.
EDITOR: REYNA
Related Posts

Gelar Pahlawn Nasioal Untuk Pak Harto (16): Kebijakan Ekonomi Yang Menjaga Keseimbangan

Kekuatan Negara Sudah Dikendalikan Kapitalis Hitam, Presiden Prabowo Harus Introspeksi Diri

Sri Radjasa: Lemahnya Kontrol Negara Terhadap Kawasan Industri Strategis

Gelar Pahlawan Nasional Untuk Pak Harto (15): Swasembada Beras 1984, Tonggak Ketahanan Pangan yang Mengubah Nasib Bangsa

Gelar Pahlawan Nasional Untuk Pak Harto (14): Tiga Dekade Menjaga Gerbang Kedaulatan

Airlangga Pribadi: Prabowo Sedang Hadapi Tirani Jokowi, Pilih Elit Atau Pilih Rakyat

Gelar Pahlawan Nasional Untuk Pak Harto (13): Membantu Bosnia: Diplomasi Moral dan Dukungan Senjata untuk Muslim Eropa

Bencana Sumatera dan Kegagalan Tata Kelola Kawasan

Kekayaan Keragaman Hayati Tercabut Dari Bumi Sumatra

Novel “Imperium Tiga Samudra” (21) – Auto Cloce, Pintu Yang Tidak Boleh Dibuka Lagi



No Responses