JAKARTA – Israel telah melanggar gencatan senjata lebih dari 48 kali dalam beberapa hari terakhir, yang menyebabkan 38 warga Palestina gugur sebelum gelombang serangan terbaru ini. Israel juga memblokade bantuan kemanusiaan.
Sukamta, Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Senin (20/10/2025) melalui telepon seluler menyatakan: “Gencatan senjata tercederai oleh ulah Israel yang masih menembaki warga di Gaza yang dituduh melanggar gencatan senjata. Tentara Israel masih begitu ringan tangan untuk menembaki warga Gaza yang menurut mereka melanggar garis batas. Nyawa warga Gaza seperti tidak ada harganya di mata Israel, tidak ada penghormatan meski sedang berada dalam transisi perdamaian. Dengan kondisi seperti ini, tentu sangat tidak fair jika pihak Hamas diharuskan melucuti senjata, Mr. Trump. Tanpa adanya jaminan keamanan, proses perdamaian akan sulit bahkan mustahil terwujud. Polisi saja tidak cukup.”
Politisi dari PKS ini menegaskan bahwa kemerdekaan Palestina adalah harga mati, syarat mutlak terwujudnya perdamaian. Dengan kemerdekaan penuh, Palestina berdaulat untuk mengatur negaranya sendiri, termasuk membentuk tentara nasional Palestina yang akan menjaga negara negaranya. Di situlah Hamas dengan kerelaan akan menyerahkan senjatanya, karena Palestina merdeka sudah memiliki angkatan perang sendiri.
Si vis pacem parabellum, untuk menuju perdamaian, harus siap untuk perang, yang notabene mengharuskan suatu negara memiliki militer yang kuat, yang mampu membuat negara lain tidak semena-mena terhadap negara tersebut. Sehingga tercipta kondisi saling menghormati atau minimal tidak arogan untuk menyerang negara tersebut. Jika syarat ini tidak terpenuhi, maka negara yang memiliki militer nasional kuatlah yang akan melakukan kejahatan terhadap negara yang tidak memiliki tentara nasional.
Selain itu, Sukamta juga menyoroti soal pertukaran sandera.
“Proses perdamaian yang tercederai ini baru memasuki tahap awal. Hamas dan Israel saling bertukar sandera, termasuk sandera yang telah mati. Meskipun jenazah sandera yang diterima Palestina membuktikan betapa biadabnya Israel memperlakukan sandera di luar batas kemanusiaan. Bekas-bekas penyiksaan terlihat jelas di tubuh para sandera Israel. Ada dugaan serangan Israel ke Gaza untuk menutupi kejahatan Israel ini,” ujarnya.
“Indonesia, dalam hal ini Presiden Prabowo, perlu mendesak Presiden AS Donald Trump untuk menekan Israel mematuhi perjanjian gencatan senjata, tidak melakukan penyerangan lagi. Statemen Presiden Trump tempo hari menyatakan Perang sudah Berakhir, jangan hanya omon-omon. Akuilah kemerdekaan Palestina secara penuh,” imbuh doktor lulusan Teknik Kimia di Manchester, Inggris ini.
EDITOR: REYNA
Related Posts

Turki bersiap untuk COP31: Menjadi tuan rumah dan membangun bangsa yang sadar iklim

Setidaknya 10 Tewas, 12 Luka-luka dalam Penembakan di Pantai Australia Dalam Peringatan Hanukkah Yahudi

Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi yang menuntut Israel menarik diri dari Dataran Tinggi Golan Suriah ke garis 1967

Palestina menyambut baik resolusi Majelis Umum PBB yang menuntut Israel mencabut pembatasan bantuan ke Gaza

Pemenang Eurovision 1994 Dari Irlandia Akan Mengembalikan Trofi Karena Partisipasi Israel

Al Jazeera: Apakah hutan hujan kini menjadi penyebab, bukan lagi solusi, perubahan iklim?

Pemenang Eurovision asal Swiss, Nemo, akan mengembalikan trofi karena partisipasi Israel yang berkelanjutan dalam kontes tersebut

Satu Dekade Setelah Perjanjian Iklim Paris: Dunia Masih Jauh Dari Target Iklim 2030

Pelapor khusus PBB Albanese menyambut baik boikot Eropa terhadap Eurovision

Juru bicara Kementerian Luar Negeri: Pengerahan pasukan Indonesia di Gaza akan berkontribusi pada perdamaian global



No Responses