Oleh: Sutoyo Abadi
Tanah air diselimuti duka yang mendalam, bencana alam kembali terjadi merenggut nyawa manusia yang tidak berdosa, harta benda semua hanyut dibawa arus banjir bandang.
Dimuka bumi kayaknya hanya terjadi di Indonesia, banjir bandang tidak hanya air yang membawa lumpur tetapi banjir membawa gelondongan kayu berukuran besar, menerjang apapun yang dilaluinya.
Fenomena ini bukan sekadar “kebetulan alam”, tetapi sudah direncanakan terstruktur, rapi dan sistematis oleh para penghianat perampok dan penghancuran lingkungan dan alam.
Alam hutan sebagai benteng alami mereka hancurkan, tidak pernah berpikir akibatnya dan tidak membayangkan kayu gelondongan yang sudah diamankan, membuka aib melarikan diri bersama air bah, unjuk gigi seraya berkata “aku harus keluar dari penjara persembunyiannya”.
“Aku menerjang karena kalian hanya diam ketika saya dibunuh (ditebang) oleh manusia jahat dan serakah, aku terjang semuanya bukan bermaksud jahat hanya peringatan untuk kalian”.
“Kalian tidak salah tetapi menjadi korban pembalakan yang tidak terkendali, perambahan kawasan hutan yang menggila. Hewan dan air juga marah karena tempatnya telah diusik, tempat bersembunyi dihutan telah dibabat habis”.
Bahkan hutan sesuai data dari Kompas edisi Jumat (12/12/2025) selama 1990-2024 hilangnya hutan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat rata-rata mencapai 36.305 hektar per tahun. Jika dikonversi per hari, ditemukan angka 99,46 hektar hutan hilang per hari.
Jadi kerusakan ekosistem tidak pernah berdiri sendiri tetapi dari ulah penguasa sendiri yang ugal ugalan dalam merusak keseimbangan alam (hutan)
Sampai di sinilah kualitas negara diuji, mampu menjadikan bencana sebagai pelajaran (ibrah) sebagai titik balik kebijakan, bukan sekadar rutinitas penanganan banjir yang telah menelan nyawa rakyat yang tidak berdosa, rumah bukan hanya terendam juga musnah lenyap ditelan air bah banjir bandang.
Negara harus menjaga konsistensi ini, memastikan bahwa ketegasan tidak berhenti hanya pidato omon – okok dan atau ketika sorotan publik meredup dan kamera media tak lagi menyorot banjir kayu glondongan yang telah membawa korban rakyat tak berdosa.
Hentikan, pemerintah tidak seharusnya menebar janji, pencitraan atau konferensi pers, melainkan dengan menggunakan perubahan nyata menjaga alam sebagai penyangga hidup bangsa Indonesia.
Jika pemerintah tetap bandel dan tidak mampu menjaga ritme dan komitmennya, bencana pasti akan datang lebih besar, pulau-pulau akan lenyap tenggelam bukan hanya di Sumatera tetapi Indonesia akan lenyap kedasar lautan.
Komentar Xi Jinping benar bahwa Cina mengangkut hasil tambang dan kayu dari Indonesia, hanya membeli, tidak ada maksud merusak lingkungan dan alam di Indonesia. Yang merusak adalah pejabat dan penguasa Indonesia sendiri.
EDITOR: REYNA
Related Posts

Nikita, Cermin KejujuranYang Ditolak

Eks Menpora Dito Diperiksa KPK Terkait Kunjungan Kerja ke Arab Saudi dalam Kasus Haji

Sekolah Ramah Anak Surabaya dan Fenomena Gunung Es Kekerasan Simbolik

Tim Perusahaan Segera Melakukan Penanggulangan Minyak Tumpah Di Laut Untuk Cegah Pencemaran

Elite Berpesta Mengeruk Anggaran Negara

Dia Yang Merusak, Dia Yang Memperbaiki?

Harga emas mencapai rekor tertinggi di tengah ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi

Geopolitik Membentuk Ulang Prakiraan Ekonomi Seiring Meningkatnya Risiko Rantai Pasokan

Kedaulatan Rakyat Telah Dirampas Dan Dibajak Parpol Dan DPR

Wakil Ketua Komisi IX DPR, Yahya Zaini, Usul Guru Honorer Diprioritaskan Diangkat PPPK Sebelum Pegawai SPPG



No Responses